RSS
Image

NGABEN @Jero Dangin Peken Pancasari

NGABEN @Jero Dangin Peken Pancasari

 
Leave a comment

Posted by on October 30, 2013 in Uncategorized

 
Image

Side Job @Pancasari

 
Leave a comment

Posted by on April 29, 2013 in Uncategorized

 
Image

Weekly Photo Challenge: Culture – (Ogoh-ogoh)

Weekly Photo Challenge: Culture6287862213212-2013-03-13(2)

OGOH-OGOH

Ogoh-ogoh is a sculpture depicting the Balinese culture personality Bhuta Kala. In Hinduism Dharma, Bhuta Kala represents strength (Bhu) universe and time (Kala) is not measurable and undeniable.

In the embodiment of the statue in question, Bhuta Kala portrayed as large and frightening, usually in the form of Rakshasa (Giant).
In addition to the form of Rakshasa, Ogoh-ogoh are often depicted in the form of the creatures that live in Mayapada, Heaven and Naraka, such as: dragon, elephant, eagle, Widyadari, even gods. In the process, there were made ​​to resemble famous people, such as world leaders, religious leaders and even the artist or criminals. Related to this, there is also a political nature or Tribe, Religion, Race, Inter-group (SARA), although in fact it is deviating from the basic principles of Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh example depicting a terrorist.
In the main function, as a representation of Ogoh-ogoh Bhuta Kala, made ​​ahead of Nyepi Day and paraded around the village abuzz Pangrupukan at dusk, a day before Nyepi Day.
According to scholars and practitioners of Hindu Dharma, this process represents the conviction of the power of the human universe and time that is most powerful. The power includes the power Bhuana Agung (the universe) and Bhuana Alit (human beings). In view of Tattwa (philosophy), this power can deliver sentient beings, particularly human beings and the rest of the world into happiness or destruction. This all depends on the intention of the noble man, as God’s most precious creatures in keeping himself and the whole world.

(Source: Wikipedia)

Nyepi Day is the day of the New Year Saka (Isakawarsa) which is celebrated once a year, which falls on the day after ‘Tilem Kesanga’ on December 1 ‘Sasih Kedasa’.

There are four berata restrictions that must be followed during Nyepi, called ‘Catur Berata Penyepian’, namely:
1. Amati Geni: abstinence kindle fire
2. Amati Karya: stop work activities
3. Observe Lelanguan: abstinence entertain yourself / stop pleasure
4. Observe Lelungaan: abstinence traveling
Nyepi day in silence we hold sacred introspective, uniting the mind, and brings together creativity, taste, and intention, to the discovery of the nature of our existence and the essence of the life of the universe. Do Berata penyepian upawasa (not eating and drinking), Mona Brata (not communicating), and Jagra (not sleeping).

DSC00166

Tumpek Landep.

Thank God Almighty Creator in manifestation as Hyang Pasupati over his creation, so that the human use analisys of sharpness *Jnana thus succeeded in processing the metals that are used to expedite its efforts in supporting the day-to-day life

* Jnana in Sanskrit, Jnana means “knowledge”.

Tumpek Landep is the feast of the petition means, an expression of gratitude and thanks to God who has given ease, grace and sharpness of mind, on this day are also human and particularly Hindus in Bali in teaching in order to use and utilize objects made of metal for the welfare and prosperity in the running life.

 
6 Comments

Posted by on April 27, 2013 in Culture of Indonesia, Pancasari

 

Tags: , , , , ,

Image

Kamis, 25 April 2013

Kamis, 25 April 2013

Selamat Ulang Tahun…Refi

 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2013 in Uncategorized

 
Image

Weekly Photo Challenge: Change

DSC08175Weekly Photo Challenge: ChangeDSC08156DSC08130DSC08167

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Image

Weekly Photo Challenge: Color

Weekly Photo Challenge: Color

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Image

Weekly Photo Challenge: Lunchtime

Weekly Photo Challenge: LunchtimeDSC00526

Among my activities in the garden with my brother

 
4 Comments

Posted by on March 15, 2013 in Hidupku, The Daily Post

 

Tags: , , ,

Image

KanSap

KanSap

Kantorku Istanaku:
Tempat berteduh dan beristirahat melepas penat di sela-sela merawat kebun bungaku.

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2013 in Pancasari

 

Tags: , , , ,

Image

DePe Celluler (Delod Peken PANCASARI)

DePe Celluler (Delod Peken PANCASARI)

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2013 in Pancasari

 

Tags: ,

Image

Weekly Photo Challenge: Forward

My Garden

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2013 in Pancasari

 

Tags: , , , , , , ,

Sejarah Pancasari

Terbentuknya Desa Pancasari bermula dari tahun 1912 dimana punggawa Distrik Sukasada ( I Gusti Cakra ) maka berangkatlah empat kepala keluarga asal Banjar Desa Padang Bulia,Kapelemahan Gitgit tepatnya sekarang di Desa Pancasari yaitu :

1. I Gusti Ketut Je

2. I Gusti Ketut Panji

3. I Gusti Kompyag Bata

4. I Gusti Ketut Las

Tidak lama kemudian disusul oleh I Gusti Made Pangelat, Pan Nyoman Kasel,Pan Nengah Triug, Pan Wardi dan juga warga Taman Desa Padang Bulia dan dari Desa Pegayaman. Oleh karena pada saat itu wilayah yang dihuni adalah merupakan wilayah Desa Gitgit, maka dipimpin oleh kelian banjar yaitu I Gusti Ketut Jen, orang yang memiliki kekuatan fisik dan mental dalam menghadapi kekuatan alam pada saat itu dan juga binatang – binatang buas mengancam kehidupan warga.

Pada tahun 1919 – 1920 jabatan kelian banjar digantikan oleh I Gusti Made Endra telah menunjukkan adanya perubahan perkembangan perekonomian masyarakat khususnya dibidang pertanian, sudah barang tentu menggundang para pedagang untuk menjual dan membeli atau tukar-menukar barang yang dimiliki dan yang diperlukan masing-masing.

Mulai saat itulah oleh para pedagang menyebut Banjar Sari dengan nama Benyahe. Hal ini disebabkan karena lintasan jalan yang dilalui sering becek / berlumpur oleh karena itu lama – kelamaan disebut dengan nama Benyah.

Pada tahun 1920 jabatan kelian banjar dipegang oleh I Gusti Made Murka yang merupakan seorang pejuang kemerdekaan RI yang telah gugur dalam melawan penjajah Belanda bersama kakak kandungnya yang bernama I Gusti Ketut Teja.pada tahun 1942 -1947 kelian banjar dipegang oleh Pan Nadi Rasma. Pada tahun 1947-1948 jabatan kelian banjar dipegang oleh I Guti Kompyang Singaraja, pada saat kepemimpinannya keadaan masyarakat tidak setabil sehingga banjar Benyah dipimpin oleh 2 (dua) orang pemimpin antara lain bagian utara dipinpin oleh Pan Widia Merta selama 11,5 bulan kemudian diteruskan oleh Pan Nila selama 16 tahun, sedangkan dibagian selatan dipimpin oleh Nengah Raja yang kemudian dilanjutkan oleh Wayan Sukertha. Melihat keadaan keadaan seperti tersebut maka timbulah ide untuk memperjuangkan Banjar Benyah menjadi Desa mandiri terlepas dari bagian wilayah Desa Gitgit. Atas perjuangan I Gusti Nyoman Sandra dan pan Nila Cs, maka pada tahun 1954 banjar benyah diberikan ijn untuk berdiri sendiri dimana jabatan kelian Manca pada saat itu dipegang oleh I Gusti Nyoman Sadra sampai dengan tahun 1957-1965 jabatan kelian Manca dipegang oleh I Nyoman Koyon dalam masa kepemimpinannya tidak disebutkan. Dari tahun 1965-1995 jabatan kelian Manca dipegang oleh I Wayan Widia selama satu tahun enam bulan. Dan selanjutnya istilah Manca diganti dengan keprebekelan dimana pada saat itu langsung dipilih sebagai pimpinan I Wayan Widia. Pada tahun 1966 atas perjuangan I Wayan Widia Desa Benyah diganti namanya menjadi Desa pancasari disebabkan oleh karena masyarakat sering mengalami malapetaka seperti banjir ,tanah longsor dan hujan angin yang sangat dahsyat yang banyak menimbulkan korban jiwa dan harta benda.

Dalam kepanikan masyarakat saat itu, para penglingsir desa mengadakan musyawarah,kenapa desa terus mengalami kehancuran ( benyah ), maka saat musyawarah itu diusulkan beberapa nama untuk desa antara lain Desa Karma Pala, Desa Darma Saba, Desa Darma Laksana, dan lain – lain. namun semuanya itu tidak dimufakati. Akhirnya oleh bapak I Wayan Widia secara gaib telah mendapat pawisik bahwa Desa Benyah diganti namanya menjadi Desa Pancasari, yang kemudian keesokan harinya pawisik tersebut disampaikan pada paruman desa, dan nama Pancasari dapat diterima menjadi nama Desa, dengan satu pertimbangan tiga banjar yang ada Wates, Bajar Kelod,Banjar Sari di tambah dua banjar lagi sehingga menjadi lima banjar sari,nama banjar tersebut adalah Banjar Sari Kelod, Banjar Sari Kangin, Banjar Sari Kauh, Banjar Sari Kaja,dan Bajar Sari Tengah( dulu Banjar Wates) dengan adanya penambahan banjar tersebut untukmewujudkan kelengkapan dari lima arah mata angin yang didalam ajaran Agama Hindu betujuan untuk mencapai keseimbangan kehidupan antara Buana Agung dan Buana Alit. bersambung…
Masih ada yang perlu diluluskan
sumber:http://www.bulelengkab.go.id/profil-desa/952-selayang-pandang-desa-pancasari

 
Leave a comment

Posted by on April 30, 2011 in Asas Usul

 

Tags: ,

Selamat Tinggal 2009

Selamat Datang Tahun Baru 2010

Diakhir tahun belakangan selalu ada yang mengejutkan mulai tahun 2009 bapak bangsa telah mundahului kita Gus Dur telah berpulang ke sisi Tuhan rabu, 30 Desember 2009 pukul 18.45 di RS Cipto Mangun Kusumo

Mengawali tahun 2010 mencoba membuka lembaran baru dengan Baju Kaos. com di Pancacari dengan berbagai perlengkapan sandang dari bayi sampai kakek nenek,

Selamat Datang Keberhasilan 2010

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2009 in Hidupku

 

Upacara Mendak Toya

Minggu 20 April 2008 di sisi Tenggara Danau Buyan dilaksanakan upacara mendak toya, dari 12 mata air yang muncul berikut rangkaian rekaman foto

persiapan upacara

Dalam persiapan upacara salah seorang peserta dengan serta merta tercebur kedalam sumber mata air

mengawali upacara

Mengawali rangkaian upacara peserta menuju lokasi  mata air

Rangkaian upacara dengan sarna dan pemuput

 
Leave a comment

Posted by on April 30, 2008 in Tradisi

 

Pertanian di Pancasari

 

Banyak orang yang mempunyai anggapan kalau Bali cuma mempunyai keunggulan dari segi Pariwisata saja padahal Bali mempunyai kelebihan dibidang lain yakni segi pertanian. Pertanian di Bali merupakan sumber pemasukan yang cukup menjanjikan dan potensial. Pada awalnya banyak petani di Bali memulai dengan menanam strawberi namun masih banyak kalangan yang belum dapat mempercayai kualitas yang dihasilkan, dikarenakan mereka menanamnya diluar rumah plastik. Oleh karena itu petani-petani di Bali mulai mencari cara baru untuk mendapatkan perhatian pasar yakni dengan memulai pertanian baru yang menggunakan paprika sebagai tanamannya. Menurut mereka paprika lumayan banyak diterima oleh pasar dan juga mempunyai nilai jual yang lebih baik.

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2008 in Desaku

 

Setelah Surut 3 Meter

Air Danau Buyan-Tamblingan Menurun 3 Meter
Pancasari, Kondisi air di Danau Buyan dan Danau Tamblingan dalam setahun terakhir mengalami penurunan. Disamping adanya pendangkalan, tercatat dalam setiap bulan, berkurangnya air di kedua danau itu mencapai tiga meter.

“Dari sisi penurunan ini terjadi fluktuasi, waktu musim hujan ada peningkatan, namun dalam waktu tiga hari sudah kembali menurun, nah ini berdasarkan analisa hasil kajian dan penelitian dari Pusat Penelitian Lingklungan Hidup UNUD masih relevan,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pertamanan dan Kebersihan (DLHKP) Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Suarjana, Minggu (16/3) di kediamannya.

Menurunnya kapasitas air di Danau Buyan dan Danau Tamblingan juga disebabkan kecilnya sejumlah sumber mata air di kedua danau tersebut akibat pengerusakan sejumlah lingkungan hutan.

”Sumber mata air di kedua danau tersebut sudah mengecil dan curah hujan menurun,” ujar Suarjana.

Mengantisipasi menurunnya debit air di Danau Buyan dan Danau Tamblingan, Pemerintah Kabupaten Buleleng telah mengambil langkah-langkah secara strategis melalui program penghijauan maupun melakukan pengawasan terhadap perusakan lingkungan hutan di kedua danau tersebut. (sas)

sumber berita bali

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2008 in Desaku

 

Perkembangan Pancasari

setelah sekian lama penyusutan air danau buyan

12 Mata Air Muncul di Danau Buyan —-
20 April UpacaraPamendakan

Bali Post/ole
MATA AIR – Kolam yang berisi 12 mata air di pinggir Danau Buyan yang muncul secara tiba-tiba.

SEDIKITNYA 12 titik mata air muncul secara misterius di kawasan Danau Buyan, tepatnya di sebelah barat Pura Ulun Danu Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Oleh pangempon Pura Ulun Danu Buyan, mata air itu dinilai sebagai paica (anugerah) sehingga para prajuru menyiapkan upacara pamendakan tirtha yang rencananya digelar tepat pada purnama desta, Minggu (20/4) mendatang. Saat ini ketinggian air sudah naik dua meter dari sebelumnya.

Mata air itu muncul pertama kali sekitar dua minggu lalu. Oleh warga di sekitarnya peristiwa itu dianggap sebagai sebuah keajaiban. Mata air itu bermula ketika beberapa lokasi di pinggir Danau Buyan hendak dikeruk dengan menggunakan alat berat. Pengerukan dilakukan untuk membuat sowan (semacam telaga suci) yang konon sowan itu memang pernah ada di pinggir danau. Ketika kegiatan pengerukan baru berjalan beberapa hari, tiba-tiba muncul keajaiban. Alat berat itu tiba-tiba terbenam dan tak bisa digerakkan.

Prajuru Pura Ulun Danu Buyan, Wayan Sumadra, Minggu (13/4) kemarin mengatakan di lokasi alat berat yang terbenam itu kemudian muncul mata air. Mula-mula airnya kecil namun kemudian membesar. Awalnya memang muncul satu mata air, namun beberapa hari kemudian muncul lagi mata air-mata air kecil di sekitarnya. Air itu kemudian dialirkan ke danau dengan membuat parit menuju danau.

Dengan ditemukannya mata air itu, pihak prajuru Pura Ulun Danu Buyan langsung melakukan pertemuan. Hasil pertemuan, prajuru bersama warga Sad Desa (Desa Pakraman Pancasari, Amertasari, Gitgit, Padangbulia, Pumahan dan Wanagiri) yang menjadi pangempon ayah ngarep Pura Ulun Danu Buyan itu akan menggelar upacara pamendakan. Karena air yang keluar dari mata air itu dianggap sebagai paica atau anugerah yang membuat tingkat ketinggian air di Danau Buyan akan naik.

Secara niskala, kata Samudra, munculnya mata air itu merupakan tanda bahwa Ida Sang Hyang Widhi mengabulkan harapan warga saat melakukan berbagai upacara sebelumnya.Dengan munculnya mata air ini kita harus berterima kasih dan diharapkan seluruh warga mengikuti upacara yang digelar pada Purnama Desta minggu depan,” katanya.

Sejumlah warga di sekitar danau pun mulai mengaitkan munculnya mata air itu dengan beberapa rangkaian peristiwa yang terjadi di Danau Buyan dan di Pura Ulun Danu Buyan sebelumnya. Awalnya air Danau Buyan terus menurun yang berimbas pada matinya sejumlah sumber air dan mengeringnya puluhan sungai di daerah Buleleng. Secara niskala warga percaya bahwa menurunnya air danau itu disebabkan adanya sejumlah kesalahan yang terjadi pada letak bangunan di Pura Ulun Danu. Misalnya letak surya dan taksu yang terbalik. Untuk itu, warga secara gotong royong dengan bantuan pemerintah kemudian memperbaiki letak pelinggih tersebut dengan menukar kembali pelinggih yang dianggap salah. Selain itu warga juga sudah menggelar upacara pakelem dan Wisnu Kertih. Setelah melakukan perbaikan dan upacara, kemudian muncul mata air, ini secara niskala memang sangat berhubungan,” kata seorang warga di Pancasari.

Apalagi, belakangan ini air Danau Buyan juga mulai merangkak naik. Berdasarkan catatan yang dibuat Wayan Samudra, air Danau Buyan sejak sebulan ini sudah naik sekitar dua meter. Sebelumnya air itu turun 3,85 meter dari permukaan normal. Kini tinggal naik lagi dua meter, maka air danau itu sudah sama seperti semula,” katanya. (kmb15)

sumber dari balipost

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2008 in Desaku

 
 
valeriu dg barbu blog

writing, poetry, poems, lyrics, remedy of soul,

this man's journey

my past , present and dreams for the future.

Bams' Blog

FAMILY | FRIENDSHIP | PHOTOGRAPHY | BUSINESS |

Flickr Comments

I'm introducing for more than 2,500 subscribers daily photos + photographers (and a little music)

yarnwuseleien

welcome and enjoy my different life

retireediary

The Diary of a Retiree

ILEANA PARTENIE

mostly about Bucharest. about yesterday's traces and today's world * surtout sur bucarest. sur les traces d'hier et le monde d'aujourd'hui

Wind Against Current

Thoughts on kayaking, science, and life

kbvollmarblog

The World According to Siri and Selma

Outreach

Explore My World

Sasieology

Aim to achieve your dreams

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 123 other followers

%d bloggers like this: